Lompat ke konten

Sekarang Menentukan Gaya Bahasa Tak Lagi Sulit, Setelah Mengetahui Konsep Ini!

Halo, apa kabar?

Senang sekali bisa memberikan pembelajaran tentang menulis untuk kamu. Agar semakin mantap, saya akan terus mengupdate materi impactful writing dari hasil pemikiran dan pengalaman saya di lapangan.

Gaya bahasa menjadi penting, karena kesuksesan sebuah konten tergantung bagaimana cara menyampaikannya. Walau dalam penulisan content writing nggak melibatkan penyebutan diri kita.

(cek blog impactfulwriting.com/blog untuk mengetahui content writing tanpa ada sama sekali menggunakan kata “saya”, “aku”, “gue”).

Hanya membicarakan “kamu, kamu, dan kamu”. Semua tulisan kita berfokus kepada pembaca. Yang notabene memberikan kesan diistimewakan. Dan itu yang membuat pembaca merasa terikat secara emosi.

Gaya bahasa yang sudah kamu pelajari, dalam modul inti memberikan suatu gambaran, betapa fleksibelnya dalam menggunakan gaya bahasa. Oleh sebab itu, penting untuk menentukan gaya bahasa dalam sebuah tulisan.

Saya masih mendapati pertanyaan “kak, bagaimana cara menentukan gaya bahasa tulisan kita?”. Saat itu saya menjawabanya “mudah aja, perbanyaklah membaca dan menulis. Dari sanalah kamu akan mengetahui seperti apa gaya bahasa penulisanmu”.

Tapi setelah saya mendapatkan konsep ini. Kini tak lagi menjadi sebuah persoalan bahkan terlalu dipusingkan.

“duh, gue mau pake gaya bahasa apa ya?”

“pusing juga nih mau pake “saya”, “aku”, atau “gue” ya?”

Dan masih banyak lagi kegelisahan yang mungkin kamu rasakan juga. Mudah-mudahan update konten kali ini memberikan perspektif baru ya?

 

Gaya Bahasa itu Tergantung Kondisi

Pernah nggak sih menyaksikkan pidato formal menggunakan gaya bahasa “gue”-“elu”? Mungkin nggak pernah ya? Karena menimbulkan jarak dengan audience.

“wah, apaan nih?”

Apa lagi kalau audiencenya kebanyakan di atas umur 40 tahunan. Rasanya aneh dan agak menyeritkan dahi.

Tapi bagaimana kamu berbicara seperti keseharian? Mungkin menggunakan “Saya”-“Anda” akan menjadi sangat kaku dan menyebalkan.

“elu, apaan sih. Udah kayak mau pidato aja?”

Begitu pun sebuah tulisan. Saya ingin menyampaikan betapa fleksibelnya sebuah gaya bahasa yang bisa kita terapkan.

Mungkin dalam pembelajaran modul impactful writer dan update konten, banyak menggunakan kata “saya”-“kamu”. Karena memang saya lebih nyaman begitu ketika mengajar seperti aslinya.

Tapi berbeda ketika kamu membaca tulisan saya di blog dengan gaya bahasa “gue”-“lu”. Itu artinya saya sedang curhat atau bercerita keseharian.

Jadi, nggak perlu pusing lagi kita menggunakan gaya bahasa, tinggal kita tentukan konteksnya apa? Dan kepada siapa kita menyampaikan informasi itu?

Sedang mengajar kah?

Sedang curhat kah?

Sedang menyampaikan sesuatu yang penting kah?

Semua tergantung kondisi. Kalau kamu menjadi nyaman ketika menggunakan kata “gue”-“lu” saat cerita dan curhat di blog. Ya, lakukan. Selama kamu nyaman, pembaca pun akan merasakan.

Sebab, saya sekarang mulai terbiasa untuk itu. Kalau mengajar ya pakainya “saya”-“kamu”, kalau lagi curhat tentang keseharian “gue”-“lu”.

Kalau lagi ingin menyampaikan suatu insight, ya, bisa aja “aku”-“kamu”. Agar bisa terkesan nggak bercanda dan ringan-ringan amat. Hehe.

Jadi, nggak perlu pusing lagi ya?

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses